Gejala Vulkanisme

Gejala Vulkanisme

yaitu peristiwa naiknya magmadari dalam perut bumi. Magma adalah campuran batu-batuan dalam keadaan cair, liat serta sangat panas yang berada dalam perut bumi. Aktifitas magma disebabkanoleh tingginya suhu magma dan banyaknya gas yang terkandung di dalamnya sehingga dapat menyebabkan retakan-retakan dan pergeseran lempeng kulit bumi. Proses terjadinya vulkanisme dipengaruhi oleh aktivitas magma yang menyusup ke lithosfer (kulit bumi). Apabila penyusupan magma hanyasebatas kulit bumi bagian dalam dinamakan intrusi magma. Sedangkan penyusupan magma sampai keluar ke permukaan bumi disebut ekstrusi magma.

Sampai di sini apakah anda dapat memahami gejala vulkanisme?. kalau anda sudah memahami mari ikuti penjelasan berikutnya!

  1. Intrusi magma

Intrusi magma adalah peristiwa menyusupnya magma di antara lapisan batu-batuan, tetapi tidak mencapai permukaan bumi. Magma tersebut terdapat pada sebuah tempat di dalam bumi yang disebut dengan dapur magma. Letak dapur magama jauh di dalam bumi, tetapi ada juga yang dekat dengan permukaan bumi. Oleh karena itu jarak dapur magma dengan permukaan bumi berpengaruh terhadap besarnya tenaga intrusi dan ekstrusi magma.

Magma yang bergerak naik tidak selalu mencapai permukaan bumi karena tenaga yang dimilikinya sangat kecil. Magma tersebut akhirnya bergerak menerobos celah-celah pada lapisan batuan di dalam bumi. Inilah yang dinamakan Intrusi Magma. Intrusi magma  dapat menghasilkan berbagai bentukan di dalam bumi yang antara lain:

  1. Batolit, yaitu bekuan magma yang berada di dapur magma.
  2. Sill, yaitu magma menyusup diantara dua lapisan batuan, mendatar dan pararel dengan lapisan batuan tersebut.
  3. Lakolit, yaitu magma yang menerobos di antara lapisan bumi paling atas yang menyebabkan lapisan batuan di atasnya terangkat sehingga cembung dan alasnya rata. Bentuknya mirip kue serabi.
  4. Gang (korok), yaitu batuan hasil intrusi magma yang menyusup dan membeku di sela sela lipatan (korok).
  5. Diatroma adalah lubang (pipa) diantara dapur magma dan kepundan gunung berapi bentuknya seperti silinder memanjang .
  6. Apofisa, yaitu semacam intrusi korok namun lebih kecil.

Untuk lebih jelasnya memahami gejala vulkanisme ini dapat dilihat gambar di bawah ini:

  1. Ekstrusi magma (Erupsi)

Ekstrusi magma adalah peristiwa penyusupan magma hingga keluar permukaan bumi dan membentuk gunung api. Magma tersebut memiliki cukup tenaga untuk menerobos sampai ke permukan bumi. Proses keluarnya magma ini melalui 2 cara, yaitu efusif dan eksplosif.

  1. Erupsi Efusif

Adalah erupsi yang berupa lelehan lava melaui retakan, rekahan atau lubang kawah suatu gunung api. Proses keluarnya lava kepermukaan bumi tanpa diserta dengan letusan. Karena lavanya jinak, orang-orang membuat gunung api tipe ini sebagai objek wisata (Volcano Tour), seperti gunung api yang ada di Hawaii Amerika Serikat. Gambaran mengenai gunung api efusif dapat dilihat pada video dibawah ini:

2. Erupsi Eksplosif

Adalah erupsi yang berupa ledakan/letusan dengan mengeluarkan lava, bahan-bahan padat dan gas. Erupsi jenis ini terjadi karena lava yang bersifat kental, mempunyai tekanan yang tinggi dan terdapat sumbat lava di kepundan gunung api sehingga energi akan terkumpul menjadi besar dan akan meletus jika sudah cukup untuk menjebol sumbat lava atau dinding gunung api.

Umumnya gunung api di Indonesia bertipe ini. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di video berikut ini :

Bentuk-bentuk gunung api

Berdasarkan bentuknya gunung api dapat dibedakan menjadi 3, yaitu:

  1. Gunung Api Perisai

Gunung ini terbentuk karena magma yang keuar dari dapur magma bersifat sangat encer. Magma yang encer tersebut keluar dari gunung berapi dengan meleleh ke segala arah sehingga lerengnya menjadi landai menyerupai bentuk perisai. Sudut kemiringan lereng antara 1 º – 10º. Contoh gunug api perisai adalah gunung maona loa di Hawaii Amerika Serikat.

 

2. Gunung Api Maar

Terbentuk karena adanya letusan eksplosif dari dapur magma yang relatif kecil dan dangkal. Oleh karena itu, hanya 1 kali erupsi saja aktivitas gunung tersebut biasanya langsung berhenti. Bentuk kawah gunung ini biasanya melingkar dengan ukuran luas dan membentuk seperti corong. Contoh gunung lamongan di Jawa Timur, Indonesia.

3. Gunung Api Strato

Gunung api ini berbentuk kerucut dengan lereng yang curam. Kerucut ini terbentuk dari material letusan gunung api yang merupakan campuran antara letusan efusif dan eksplosif. Letusan ini terjadi berulang-ulang hingga membentuk lapisan-lapisan badan gunung. Badan gunung ini tersusun dari selang-seling endapan lava, aglomerat, bom, lapili, pasir dan tuff. Kemiringan lereng gunung strato berbed-beda tergantung pada material penyusunnya. Pada umumnya gunungapi strato di Indonesia yang mempunyai banyak silikat (asam) mempunyai lereng terjal dengan kemiriangan minimal 32º, akan tetapi bagi gunung api yang tersusun terutama dari magma basa yang berarti kurang silikat (basalt, gelap) berlereng lebih landai ( 6º – 10 º).

Dipuncak gunung api tempat keluarnya magma saat erupsi terdapat kepundan (crater) yang berbentuk cekung membulat di bagian tenga gunung api sebagai pusat aktivitasnya.

Umumnya gunung api di Indonesia berbentuk Strato.

Contoh gunung api strato antara lain Gunung Fuji di Jepang, Gunung Merapi di Jawa Tengah, Gunung Semeru, Jawa Timur, Gunung Kerinci di Jambi.

Berdasakan tipe letusannya gunung api dibedakan menjadi 7, yaitu:

  1. Tipe Hawaii
  2. Tipe Stromboli
  3. Tipe Vulkano
  4. Tipe Merapi
  5. Tipe Perret/ Plinian
  6. Tipe Pelee
  7. Tipe St. Vincent

Tipe-tipe gunung api ini dibedakan atas tingkat kekentalan lava, tekanan gas dan kedalaman dapur magmanya.

Untuk lebih memahami karakteristik masing-masing tipe, lebih baiknya perhatikan gambar tabel berikut ini:

Tanda-tanda gunung api akan meletus

Ketika sebuah gunung api akan meletus biasanya muncul tanda-tanda yang dapat di amati atau kita sebut gejala pravulkanik, yang antara lain:

  1. Suhu disekitar gunung api mengalami peningkatan
  2. Sering mengeluarkan suara gemuruh dan kadang disertai getaran (gempa)
  3. Banyak sumber mata air yang mengering
  4. Tumbuhan disekitar gunung banyak yang mati
  5. Banyak binatang yang turun gunung

Bila tanda-tanda ini telah muncul maka pihak terkait akan segera mengeluarkan peringatan dini kepada warga di sekitar gunung agar mengungsi ke tempat yang lebih aman, sehingga korban jiwa dapat diminimalisir.

Material Letusan Gunung Api

Ketika gunung api meletus, maka akan mengeluarkan berbagai material yang dikandungnya yang antara lain:

  • Eflata (material padat) berupa bom (batu besar), lapilli (kerikil), pasir dan debu.
  • Bahan cair, berupa Lava, lahar panas dan lahar dingin
  • Ekshalasi (gas) berupa belerang, Fumarol (uap air) dan Mofet ( gas asam arang).

 

Setelah meletus kadang-kadang gunung api masih mengeluarkan gejala yang menunjukkan sisa aktivitas vulkanisme.

Gejala pascavulkanik tersebut antara lain sebagai berikut:

  • Keluarnya sumber gas (ekshalasi)
  • Keluarnya sumber air panas
  • Muncul geyser, yaitu mata air panas yang memancar secara berkala
  • Munculnya sumber air mineral (makdani)

Indonesia adalah negara dengan gunung api terbanyak di dunia, ada sekitar 130 gunung api aktif yang berderet mulai dari Sumatera, Jawa, Bali, Kepulauan Nusa Tenggara, Maluku hingga Sulawesi. Gunung api di Indonesia termasuk dalam deretan gunung api dunia yang disebut Ring Of Fire. Untuk lebih jelasnya lihatlah peta di bawah ini:

 

Itulah bagaimana sebuah gunung api terjadi dan jenis-jenis nya. Bagaimana asyik bukan? Pelajari selalu geografi.

Demikian sedikit ulasan mengenai gejala vulkanisme, jika ini bermanfaat silahkan di share.

Untuk Bahan Latihan, Kerjakan Soal-soal berikut ini :

 

 

Aktivitas Siswa !

Perhatikan peta persebaran gunung api di Indonesia yang ada di atas ! Gunung api di Indonesia membentuk suatu pola garis deretan yang memanjang, Jelaskan bagaimana hal itu bisa terjadi ! Tulis hasil diskusi di komenter di bawah ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.